Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Bermula dari sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam An Nasaa’i dan Imaam Ibnu Sunni, dari salah seorang shohaby bernama Abu Umaamah Al Baahili رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
Maksudnya, kalau orang itu mati maka ia berhak masuk surga, asalkan melazimkan membaca ayat Kursi pada setiap selesai sholat fardhu.
Pembacaan ayat Kursi tersebut sebenarnya rangkaian dari sunnah-sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan do’a dan dzikir setelah sholat fardhu. Maka kita harus meyakini bahwa sunnahnya setelah sholat fardhu itu ada dzikir dan ada doa. Itu adalah ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan itu diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama ah. Dan jangan terpancing oleh sekelompok orang yang selesai sholat melakukan wirid bersama-sama, satu suara, satu komando dan dikomando oleh imaam sholat, membaca surat Al Fatihah, lalu membaca wirid-wirid lainnya dengan suara dikeraskan. Lalu do’anya dipimpin oleh imaam sholat, lalu berdiri melingkar, saling bersalaman, sambil “menyanyikan” Sholawat Nabi. Maka selesailah rangkaian upacara sholat menurut mereka. Rangkaian acara yang demikian, justru tidak pernah dicontohkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tidak ada sunnahnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena amalan itu baru disebut ibadah kalau berdalil atau dengan kata lain, ada dasar hukumnya dari Islam.
Kalau kata “sunnah” itu diartikan sebagai “anjuran” maka tidak boleh mencela atau mengolok-olok, atau mencaci-maki kepada orang-orang yang selesai sholat langsung pergi. Sebetulnya memang jangan langsung pergi, karena selesai sholat fardhu ada dzikir, do’a dan seterusnya.
Maka marilah kita cermati dan jernihkan permasalahannya, bahwa Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengajarkan sesuai dengan apa yang ada dalam dalil-dalil. Bahwa apabila dalilnya begitu, marilah kita jalankan bersama.
Tetapi kalau tidak ada dalilnya, maka dalam beribadah kita jangan berdasarkan kreatifitas. Jangan berdasarkan inisiatif, jangan karena kebiasaan atau budaya warisan. Kita beribadah karena firman Allooh سبحانه وتعالى, dan karena sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kembali kepada Ayat Kursi, adalah merupakan rangkaian dzikir ketika selesai melakukan sholat fardhu berjama’ah. Apabila selesai sholat fardhu berjama’ah, maka sunnahnya diantaranya adalah :
1. Membaca Istighfar 3 kali :
2. Membaca :
3. Membaca :
4. Membaca :
5. Membaca, masing-masing sebanyak 33 kali:
Atau
(Subhaanallooh walhamdulillaah Alloohu Akbar 33 X).
6. Membaca do’a :
7. Membaca: Ayat Kursi.
Artinya:
“Allooh adalah tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri. Allooh tidak mengantuk dan tidak lah tidur. Milik-Nya apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allooh kecuali dengan izin-Nya. Allooh Maha Mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sedikit pun dari ilmu-Nya kecuali dengan apa yang Allooh kehendaki. Kursi Allooh meliputi langit dan bumi dan Allooh tidak lah berat dalam memelihara keduanya dan Allooh Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS Al Baqoroh ayat 255)
Terima kasih atas kunjungan Anda di postingan ini, semoga bermanfa'at.
Bermula dari sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam An Nasaa’i dan Imaam Ibnu Sunni, dari salah seorang shohaby bernama Abu Umaamah Al Baahili رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
من قرأ آية الكرسي دبر كل صلاة مكتوبة، لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت“Barangsiapa yang membaca ayat Kursi pada setiap selesai sholat fardhu, maka tidak ada dinding pemisah antara orang itu dengan surga kecuali kematian”. (Hadits Riwayat Ibnu Sunni dari Abu Umaamah Al Baahili رضي الله عنه dishohiihkan oleh Syaikh Al Albaany)
Maksudnya, kalau orang itu mati maka ia berhak masuk surga, asalkan melazimkan membaca ayat Kursi pada setiap selesai sholat fardhu.
Pembacaan ayat Kursi tersebut sebenarnya rangkaian dari sunnah-sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan do’a dan dzikir setelah sholat fardhu. Maka kita harus meyakini bahwa sunnahnya setelah sholat fardhu itu ada dzikir dan ada doa. Itu adalah ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan itu diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama ah. Dan jangan terpancing oleh sekelompok orang yang selesai sholat melakukan wirid bersama-sama, satu suara, satu komando dan dikomando oleh imaam sholat, membaca surat Al Fatihah, lalu membaca wirid-wirid lainnya dengan suara dikeraskan. Lalu do’anya dipimpin oleh imaam sholat, lalu berdiri melingkar, saling bersalaman, sambil “menyanyikan” Sholawat Nabi. Maka selesailah rangkaian upacara sholat menurut mereka. Rangkaian acara yang demikian, justru tidak pernah dicontohkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tidak ada sunnahnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena amalan itu baru disebut ibadah kalau berdalil atau dengan kata lain, ada dasar hukumnya dari Islam.
Kalau kata “sunnah” itu diartikan sebagai “anjuran” maka tidak boleh mencela atau mengolok-olok, atau mencaci-maki kepada orang-orang yang selesai sholat langsung pergi. Sebetulnya memang jangan langsung pergi, karena selesai sholat fardhu ada dzikir, do’a dan seterusnya.
Maka marilah kita cermati dan jernihkan permasalahannya, bahwa Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengajarkan sesuai dengan apa yang ada dalam dalil-dalil. Bahwa apabila dalilnya begitu, marilah kita jalankan bersama.
Tetapi kalau tidak ada dalilnya, maka dalam beribadah kita jangan berdasarkan kreatifitas. Jangan berdasarkan inisiatif, jangan karena kebiasaan atau budaya warisan. Kita beribadah karena firman Allooh سبحانه وتعالى, dan karena sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kembali kepada Ayat Kursi, adalah merupakan rangkaian dzikir ketika selesai melakukan sholat fardhu berjama’ah. Apabila selesai sholat fardhu berjama’ah, maka sunnahnya diantaranya adalah :
1. Membaca Istighfar 3 kali :
أستغفر الله“Astaghfirullooh, Astghfirullooh, Astaghfirullooh.”
2. Membaca :
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ“Alloohumma Antas salaamu, wa mingkas salaamu, tabaarokta dzal jalaali wal ikroomi.”
3. Membaca :
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai im ba’du.”
4. Membaca :
اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Alloohumma laa maani’a lima a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jadi minkal jaddu.”
5. Membaca, masing-masing sebanyak 33 kali:
سبحان الله
الحمد لله
ألله أكبرSubhaanallooh (33 X), Alhamdulillaah (33 X), Alloohu Akbar (33 X).
Atau
(Subhaanallooh walhamdulillaah Alloohu Akbar 33 X).
(1x) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai im ba’du.”
6. Membaca do’a :
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Alloohumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika.”*
7. Membaca: Ayat Kursi.
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ“Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu, laa ta’khudzuhu sinatuw walaa nauum, lahu maa fis samaawaati wamaa fil ardhi mandzalladzii yasyfa’u ‘indahu illaa bi idznihii, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai im min ‘ilmihi illaa bimaa syaa-a, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardhi walaa ya uuduhu hifdzuhuma wahuwal ‘aliyyul ‘adziimu.”
Artinya:
“Allooh adalah tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri. Allooh tidak mengantuk dan tidak lah tidur. Milik-Nya apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allooh kecuali dengan izin-Nya. Allooh Maha Mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sedikit pun dari ilmu-Nya kecuali dengan apa yang Allooh kehendaki. Kursi Allooh meliputi langit dan bumi dan Allooh tidak lah berat dalam memelihara keduanya dan Allooh Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS Al Baqoroh ayat 255)
Terima kasih atas kunjungan Anda di postingan ini, semoga bermanfa'at.
Judul : Membaca Ayat Kursi Ba’da Sholat Fardhu
Diskripsi : Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى, Bermula dari sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits yang diriwayatk...
Diskripsi : Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى, Bermula dari sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits yang diriwayatk...



