(HR. Muslim)
Tidak banyak manusia menyadari akan kuasa Allah I yang selalu mengamatinya baik mereka lakukan secara sembunyi maupun terang-terangan ataupun yang sangat diprihatinkan ialah hati yang fasik, padahal ia sudah tahu tetapi tetap saja tidak berkehendak untuk mengikuti akan perintah dan menjauhi larangan dari-Nya malah sebaliknya.
Diantara kita tentu sudah banyak menyaksikan begitu banyak manusia yang menghabiskan waktu kesehariannya dengan kegiatan yang sia-sia atau tidak bermanfaat (merugikan), misalnya pesta narkoba, selingkuh, berpacaran, ghibah, berbohong atau bermain suatu permainan yang semula bermanfaat tapi menjadi merugikan, apa lagi kalau bukan bermain bola kaki, voly, basket, catur, game, dll, dimana karena tenggelam dalam kenikmatannya berakibat saat waktu kumandang adzan tiba atau hal fardhu lainnya malah diabaikan dengan alasan nanti aja, bajunya kotor gak bawa baju ganti, tunggu selesai, dan beribu alasan lainnya. Padahal Allah berfirman yang artinya “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (QS al-Baqarah [2]: 43)
Sadarlah! Kita telah Jauh
Tak sadarkah kita yang semula hanya kita anggap biasa-biasa saja malah mengakibatkan diri kita jauh dari Allah I. Allah berfirman yang artinya “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS Maryam [2]: 59).
Padahal menurut kita hanyalah hal biasa, tapi bagi Allah adalah beda. Cinta kita kepada Allah I adalah berbeda dengan cinta kita kepada segala ciptaan Allah I. Sebagaimana Allah I berfirman yang artinya, “Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS.al-Taubah[4] : 24)
Inilah akibat dari kita yang dengan sengaja tidak mau tahu sehingga mengakibatkan diri kita jauh dari Allah I. Allah berfirman yang artinya, “Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS al-Zumar[39]: 22). Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan muncul bintik hitam dalam qalbunya. Kemudian jika ia bertaubat meninggalkan dosa dan memohon ampun, maka hatinya bersih. Dan jika dosa-dosanya bertambah , bintik hitam itupun bertambah. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad “Hasan”)
Semakin banyaknya bintik hitam di dalam hati kita, maka Nur(cahaya) akan terhalang masuk ke dalam qalbu kita, ibarat “cahaya matahari yang menerobos langit-langit yang bersih tanpa awan, tiba-tiba tertutupi awan sehingga membentuk gumpalan awan hitam sehingga mendung. Maka terhalanglah sinarnya tak menyapa hamparan luas bumi kembali.”
Kembali kepada Sang Illahi
Merenungi diri pribadi kita yang sudah terlanjur jauh berbuat dosa, namun ingin kembali kepada Allah dengan Ikhlas lillahi ta’ala yaitu dengan “taubat nasuha”. Apakah hal itu bisa diterima oleh Allah Ta’ala ? kenapa tidak, Allah adalah al-Ghafūr (Maha Pengampun) dan al-‘Afuww (Maha Pemaaf). Allah mengerti dengan bagaimana kita, dimana suasana hati kita yang sedang kosong, hampa tanpa arah dan tujuan.
Allah I berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali‘Imrân [3]: 135)
Setiap insan (manusia) tentu tidak akan luput dari suatu kesalahan serta dosa dan Allah Maha Mengetahui akan hal itu, namun sebaik-baik kesalahan ialah penyesalan dengan taubat sebenar-benar taubat. Jika Allah menerangkan bahwa mereka yang semula penuh dengan dosa kemudian berhenti untuk tidak mengulangi melakukannya lagi, sehingga mereka mendapatkan ampunan dan surga dari-Nya. Maka kita harus laksanakan akan perintah Rabb Semesta Alam.
Keyakinan Membawa Kedamaian
Keyakinan yang akan membawa kita dalam damai dan cinta penuh kasih dan sayang kepada-Nya sehingga setiap lisan, perbuatan, sifat kita selalu tertuntun untuk-Nya, karena-Nya. Dan Insya Allah, sebagai jaminan Allah dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah [2]: 153). Di ayat lain Allah I telah tegaskan, “Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS al-Baqarah[2]: 194). Dan Allah juga sampaikan, “Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS Ali’Imrân [3]: 156)
Langkah Menuju Ridha-Nya
Sebagian diantara kita tentu belum 100 % sanggup jika merubah kebiasaan buruk diri pribadi kita ke arah lebih baik secara total, ada yang alasan karena dirasa masih susah, rumit ada juga karena faktor lingkungan dan sebagainya. Hal tersebut harus kita maklumi dan bukanlah menjadi penghalang bagi kita kembali kepada-Nya. Perubahan menuju jalan yang diridhai-Nya sebagaimana air kotor di dalam piring kaca, tidak akan langsung bersih begitu saja melainkan harus dibersihkan dengan cara yang benar, dibersihkan dengan menggunakan busa pencuci piring kotor ditambah deterjen dan bahan lain untuk membersihkan piring kotor tersebut.
Agama Islam adalah agama yang telah dimuliakan Allah. Kembalinya seorang hamba dengan jalan taubat nasuha pun bukan sekedar lisan namun harus diwujudkan dalam kehidupan kesehariannya serta istiqamah dijalan-Nya. Inilah yang dapat kita ambil darinya yaitu prinsip tekad serta yakin penuh bahwa ianya(taubat nasuha) adalah benar yaitu benar bagi Allah bukan benar bagi kita karena hakekat kita adalah seperti jendela kaca, walaupun sudah sedemikian bersih hingga mengkilat sekalipun, namun pada akhirnya akan kotor juga karena debu.
Tekad serta keyakinan penuh hanya kepada Allah semata akan membuahkan hasil pada qalbu kita yang sepi, hampa dan gelap gulita menjadi terang benderang disinari oleh Nur hidayah dari-Nya. Oleh-Nya semata atas setiap tingkah laku, sifat, dan perbuatan kita akan membuat pribadi kita yang jelek menjadi baik di pandangan Allah Yang Maha Penyayang.
Demikian semua dapat terwujud jika kita melakukannya secara kontinu dan istiqamah yaitu meningkat baik dari hari ke hari. Dimana dulunya suka minum minuman keras satu minggu 10 botol dialihkan ke minum kopi atau minuman lainnya yang tidak haram. Walaupun itu adalah sangat berat dilakukan namun percayalah bahwa setiap apa yang kita sandarkan kepada Allah semata, maka hal itu pun akan terasa ringan dan nikmat karena Allah Maha Besar Maha Kuasa atas segala penciptaan-Nya. Maka, tiadalah Allah tak kuasa memberi hidayah kepada hamba-Nya melainkan akan ditambahkan-Nya akan nikmat selain nikmat yang telah dilakukan. Diantaranya ialah rasa sabar, tawakkal, tabiat yang santun, menjadi ahli ibadah, ahli dzikir, dan sebagainya.
Ikhtitâm
Sebagai penutup, sembari mengingat kembali bahwa hidup kita ini hanyalah sementara. Seiring perputaran bola bumi sepanjang periode perjalannya maka itu tiadalah berarti dibandingkan dengan lamanya kita saat di akhirat kelak. Oleh karena itu, selagi kita diberi kesempatan oleh Allah I untuk dapat menikmati keindahan ciptaan-Nya maka hendaklah kita juga menyukurinya dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Arik Suefendi
Dari berbagai sumber

